Text
Filsafat Sebagai Ilmu Kritis
Buku Filsafat sebagai Ilmu Kritis membahas filsafat sebagai cara berpikir yang kritis, rasional, dan mendalam dalam memahami berbagai persoalan kehidupan. Franz Magnis-Suseno mengajak pembaca untuk tidak menerima suatu pemikiran atau pandangan begitu saja, tetapi mempertanyakan dasar, alasan, dan kebenarannya secara logis.\\r\\n\\r\\nBuku ini membantu pembaca memahami peran filsafat dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta melihat berbagai persoalan manusia, masyarakat, dan kehidupan secara lebih mendalam. Buku ini cocok bagi mahasiswa dan pembaca yang ingin mengenal filsafat serta menerapkan cara berpikir kritis dalam kehidupan sehari-hari.\\r\\n\\r\\nKATA PENGANTAR (hal. 5)\\r\\n\\r\\nI. FILSAFAT SEBAGAI ILMU KRITIS (hal. 15)\\r\\n\\r\\nFilsuf dan minat politik (hal. 15)\\r\\n\\r\\nApa kerja filsafat? (hal. 17)\\r\\n\\r\\nFilsafat mencari jawaban (hal. 19)\\r\\n\\r\\nFilsafat sebagai ilmu kritis (hal. 20)\\r\\n\\r\\nFilsafat sebagai kritik ideologi (hal. 21)\\r\\n\\r\\nFilsafat politik (hal. 23)\\r\\n\\r\\nPenutup (hal. 24)Catatan-catatan (hal. 25)\\r\\n\\r\\nII. ETIKA DALAM TAMAN NORMA-NORMA (hal. 27)\\r\\n\\r\\nTaman norma-norma (hal. 27)\\r\\n\\r\\nAngin puyuh di taman norma-norma (hal. 29)\\r\\n\\r\\nEtika: Kambing atau tukang kebun? (hal. 31)\\r\\n\\r\\nEtika fenomenologis (hal. 33)\\r\\n\\r\\nEtika normatif (hal. 35)\\r\\n\\r\\nTukang kebun kebingungan? (hal. 36)Komunikasi terbuka (hal. 37)\\r\\n\\r\\nCatatan-catatan (hal. 40)\\r\\n\\r\\nIII. PENDASARAN KEABSAHAN NORMA-NORMA MORAL (hal. 41)\\r\\n\\r\\nPengantar permasalahan (hal. 42)\\r\\n\\r\\nMencari dasar keberlakuan norma-norma moral (hal. 43)\\r\\n\\r\\nPosisi-posisi utama dalam Metaetika (hal. 44)\\r\\n\\r\\nEtika hukum kodrat Thomas Aquinas (hal. 46)\\r\\n\\r\\nEtika Diskurs Jürgen Habermas (hal. 47)Phronesis dan Lebenswelt (hal. 49)\\r\\n\\r\\nSumbangan etika Afrika (hal. 51)\\r\\n\\r\\nKesimpulan dan penutup (hal. 52)\\r\\n\\r\\nCatatan-catatan (hal. 53)\\r\\n\\r\\nIV. MENYINGSINYA KEBUDAYAAN MODERN DAN FILSAFAT PASCA-RENAISSANCE (hal. 55)\\r\\n\\r\\nPengantar (hal. 56)\\r\\n\\r\\nA. Masyarakat modern (hal. 56)B. Sumber-sumber masyarakat modern (hal. 58)\\r\\n\\r\\nKapitalisme dan revolusi industri (hal. 59)\\r\\n\\r\\nPenemuan subjektivitas modern (hal. 60)\\r\\n\\r\\nRasionalisme (hal. 65)\\r\\n\\r\\nC. Beberapa filsuf pasca Renaissance (hal. 69)\\r\\n\\r\\nRene Descartes (1596-1650) (hal. 69)\\r\\n\\r\\nThomas Hobbes (1588-1679) (hal. 71)John Locke (1632-1704) (hal. 72)\\r\\n\\r\\nDavid Hume (1711-1776) (hal. 74)\\r\\n\\r\\nJean-Jacques Rousseau (1712-1778) (hal. 75)\\r\\n\\r\\nPenutup (hal. 75)\\r\\n\\r\\nCatatan-catatan (hal. 76)\\r\\n\\r\\nV. ROUSSEAU ATAU APA GUNA MEMBACA FILSAFAT POLITIK? (hal. 77)Ilham di bawah Pohon (hal. 77)\\r\\n\\r\\nKembali ke Alam (hal. 79)\\r\\n\\r\\nKedaulatan Rakyat (hal. 80)\\r\\n\\r\\nMaximilian Robbespierre (hal. 82)\\r\\n\\r\\nCita-cita Demokrasi (hal. 83)\\r\\n\\r\\nSejarah Filsafat Politik (hal. 85)\\r\\n\\r\\nNegara Pancasila (hal. 86)\\r\\n\\r\\nCatatan-catatan (hal. 87)VI. ADAM MÜLLER DAN NEGARA INTEGRALISTIK (hal. 89)\\r\\n\\r\\nIntegralisme Supomo (hal. 89)\\r\\n\\r\\nFaham negara Adam Heinrich Müller (hal. 92)\\r\\n\\r\\nFaham negara integralistik (hal. 94)\\r\\n\\r\\nDua macam kesatuan menurut Thomas Aquinas (hal. 97)\\r\\n\\r\\nFaham negara Hegel (hal. 98)\\r\\n\\r\\nPenutup (hal. 101)Catatan-catatan (hal. 101)\\r\\n\\r\\nVII. HEGEL TENTANG MORALITAS DAN STRUKTUR SOSIAL (hal. 103)\\r\\n\\r\\nPengantar: Immanuel Kant (hal. 104)\\r\\n\\r\\nA. Sejarah sebagai perkembangan ke arah kemerdekaan (hal. 106)\\r\\n\\r\\nB. Hukum, moralitas dan Sittlichkeit (hal. 107)\\r\\n\\r\\nHukum (hal. 107)\\r\\n\\r\\nMoralitas (hal. 108)Sittlichkeit\\\" (hal. 110)\\r\\n\\r\\nC. Beberapa pertimbangan (hal. 113)\\r\\n\\r\\nPenutup kritis (hal. 115)\\r\\n\\r\\nCatatan-catatan (hal. 116)\\r\\n\\r\\nVIII. KRITIK TERHADAP BEBERAPA GAGASAN DASAR KARL MARX (hal. 119)\\r\\n\\r\\nPengantar (hal. 120)\\r\\n\\r\\nA. Imperatif kategoris tentang emansipasi manusia (hal. 120)Kritik terhadap hukum negara Hegel (hal. 120)\\r\\na. Pola dasar kritik Marx (hal. 120)\\r\\nb. Demokrasi: Pemecahan teka-teki semua konstitusi (hal. 122)\\r\\n\\r\\n\\\"Imperatif kategoris\\\" Marx (hal. 124)\\r\\na. Emansipasi manusia (hal. 124)\\r\\nb. Pandangan moral yang terimplikasi (hal. 126)Pelaksanaan gagasan ini dalam karya Marx kemudian (hal. 128)\\r\\na. Kritik agama (hal. 128)\\r\\nb. Kritik masyarakat (hal. 129)\\r\\nc. Dehumanisasi dalam sistem produksi kapitalis (hal. 130)\\r\\nd. Masyarakat yang teremansipasi (hal. 131)\\r\\ne. Materialisme Historis (hal. 132)\\r\\n\\r\\nCatatan-catatan kritis (hal. 133). Manusia, produk pekerjaannya sendiri (hal. 136)\\r\\n\\r\\nPekerjaan sebagai pewujudan diri manusia (hal. 137)\\r\\n\\r\\nPekerjaan sebagai pembangunan diri umat manusia (hal. 137)\\r\\n\\r\\nMasyarakat kapitalis (hal. 139)\\r\\n\\r\\nRangkuman (hal. 140)\\r\\n\\r\\nCatatan-catatan kritis (hal. 140)C. Revolusi (hal. 141)\\r\\n\\r\\nMarx tentang revolusi (hal. 141)\\r\\n\\r\\nCatatan-catatan kritis (hal. 143)\\r\\n\\r\\nPenutup (hal. 145)\\r\\n\\r\\nCatatan-catatan (hal. 146)\\r\\n\\r\\nIX. \\\"DAS KAPITAL\\\": BUKU YANG MENGUBAH DUNIA? (hal. 149)\\r\\n\\r\\nPengantar (hal. 149)\\r\\n\\r\\nKelahiran yang susah-payah (hal. 150)Ajaran tentang nilai lebih (hal. 152)\\r\\n\\r\\nTanggapan (hal. 154)\\r\\n\\r\\nApakah kapitalisme pasti akan hancur? (hal. 154)\\r\\n\\r\\nCatatan-catatan (hal. 157)\\r\\n\\r\\nX. TEORI KRITIS ALIRAN FRANKFURT (hal. 159)\\r\\n\\r\\nPengantar (hal. 159)\\r\\n\\r\\nTokoh-tokoh Teori Kritis (hal. 160)Kekhasan Teori Kritis (hal. 161)\\r\\n\\r\\nLiku-liku teori Karl Marx (hal. 163)\\r\\n\\r\\nTeori Kritis sebagai usaha pencerahan (hal. 165)\\r\\n\\r\\nTeori Kritis meninggalkan Marx (hal. 167)\\r\\n\\r\\nKemacetan Teori Kritis (hal. 170)\\r\\n\\r\\nPenutup (hal. 173)\\r\\n\\r\\nCatatan-catatan (hal. 173)XI. SOSOK PEMIKIRAN JÜRGEN HABERMAS (hal. 175)\\r\\n\\r\\nGaya berfikir filsafat kritis (hal. 175)\\r\\n\\r\\nTeori kritis lawan teori tradisional (hal. 177)\\r\\n\\r\\nPendekatan historis dan materialistik (hal. 181)\\r\\n\\r\\nIlmu pengetahuan dan kepentingan (hal. 182)\\r\\n\\r\\nPerkembangan pemikiran Habermas (hal. 185)\\r\\n\\r\\nPenutup (hal. 189)Catatan-catatan (hal. 189)\\r\\n\\r\\nXII. HABERMAS TENTANG KEBEBASAN NILAI (hal. 191)\\r\\n\\r\\nPendahuluan: Lingkup permasalahan (hal. 192)\\r\\n\\r\\nA. Gagasan-gagasan pokok (hal. 193)\\r\\n\\r\\nB. Postulat kebebasan nilai dalam ilmu-ilmu pengetahuan (hal. 195)\\r\\n\\r\\nC. Kritik Habermas terhadap postulat kebebasan nilai (hal. 196)Masalah basis (hal. 197)\\r\\na. Masalah basis dan pemecahan Popper (hal. 197)\\r\\nb. Penjelasan hermeneutis Habermas (hal. 198)\\r\\nc. Rangkuman (hal. 200)\\r\\n\\r\\nIlmu-ilmu sosial (hal. 200)\\r\\n\\r\\nD. Ciri ideologi postulat kebebasan nilai (hal. 201)\\r\\n\\r\\nE. Catatan-catatan kritis terhadap pendirian Habermas (hal. 202)Catatan-catatan (hal. 206)\\r\\n\\r\\nXIII. TEORI SOSIAL YANG EMANSIPATIF: KRITIK HABERMAS TERHADAP MARX (hal. 209)\\r\\n\\r\\nPengantar (hal. 210)\\r\\n\\r\\nA. Teori masyarakat dengan maksud praktis (hal. 211)\\r\\n\\r\\nSintesis melalui pekerjaan (hal. 211)\\r\\n\\r\\nPekerjaan sebagai kategori epistemologis (hal. 213)Kritik masyarakat (hal. 214)\\r\\n\\r\\nPerbandingan dengan Kant dan Fichte (hal. 216)\\r\\n\\r\\nB. Fikiran Marx yang berdimensi satu (hal. 217)\\r\\n\\r\\nDwidimensionalitas dalam teori kemasyarakatan (hal. 218)\\r\\n\\r\\nEkadimensionalitas dalam antropologi (hal. 220)C. Kesimpulan yang ditarik Habermas (hal. 222)\\r\\n\\r\\nPenutup (hal. 223)\\r\\n\\r\\nCatatan-catatan (hal. 225)\\r\\n\\r\\nXIV. IDEOLOGI DAN PEMBANGUNAN (hal. 227)\\r\\n\\r\\nPengantar (hal. 227)\\r\\n\\r\\nA. Sejarah istilah \\\"ideologi\\\" (hal. 228)\\r\\n\\r\\nB. Tiga arti kata \\\"ideologi\\\" (hal. 229)
Tidak tersedia versi lain